About

Compare hotel prices and find the best deal - HotelsCombined.com

Blogger news

Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 April 2013

Tips Mencari Sekolah Lanjutan


Setiap menjelang tahun ajaran baru, hampir semua orangtua bingung mencari sekolah yang tepat untuk anak-anaknya. Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Namun yang ada, Anda justru pusing dibebani segudang pertanyaan. Seperti apa bentuk sekolah yang baik dan ideal? Apakah harga menjamin kualitas yang diberikan? Dan lain sebagainya. Ideal menurut kamus bahasa Indonesia artinya sesuai dengan yang diharapkan. Tentunya orang tua berharap sekolah yang dipilih akan mampu menjadi tempat mengembangkan kemampuan anak secara optimal. Berikut ini, penulis mencoba memberikan tips bagaimana mencari sekolah yang ideal atau tepat bagi anak-anak.

Libatkan anak ketika memilih sekolah.
Seharusnya selalu disadari dan dipahami oleh orang tua, bahwa yang nantinya sekolah adalah anak, bukan mereka. Maka, melibatkan anak dalam memilih sekolah merupakan langkah penting, meskipun usia  prasekolah. Orang tua jangan menganggap remeh kemampuan anak, karena pada saat usia pra sekolah anak mengalami perkembangan fisik dan mental yang sangat pesat.

Dalam buku Magic Trees of Mind, Marianne Diamond menggambarkan, perkembangan kemampuan matematika dan intelegensia ruang pada anak diperkirakan dimulai pada usia satu tahun. Kemampuan bahasa anak malah sudah dimulai sejak masih dalam kandungan. Ini berarti, daya nalar dan logika anak pada saat akan memasuki sekolah dasar (6 tahun) sudah berkembang baik. Tinggal bagaimana orang tua merangsang kemampuan anaknya. Kondisikan agar proses mencari sekolah dasar tidak menjadi beban berat bagi si anak melainkan menjadi proses belajar yang menyenangkan. Bagaimana jika ternyata pilihan anak jatuh pada sekolah yang menurut orangtua kurang sesuai? Di sinilah peran orang tua diperlukan.

Pada saat orang tua telah membuat pilihan sekolah mana yang akan dimasuki anak nanti, buatlah kesepakatan sukarela dengan anak bahwa sekolah yang akan dimasuki adalah murni pilihan anak. Dengan demikian anak akan merasa bangga karena diberi kesempatan melakukan hal yang penting. Di sisi lain anak akan lebih bertanggung jawab karena merasa sekolah yang dimasukinya adalah pilihannya sendiri.

Ketahuilah visi dan misinya.
Banyak ahli yang mengingatkan tentang pentingnya aspek visi dan misi pendidikan yang disandang suatu sekolah. Sekolah yang memiliki kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur dan realistis. Untuk dapat mengetahui visi-misi sekolah yang diinginkan, dapat dilihat di buku profil, brosur, papan nama atau media publikasi yang digunakan oleh sekolah tersebut. Dari visi dan misi yang dipaparkan dapat terlihat bagaimana orientasi tujuan dan profil output yang akan dihasilkan.

Pernyataan visi dan misi ini dapat dipotret dari beberapa aspek, antara lain aspek keagamaan, akademis, mental, perilaku, kecakapan hidup, kemandirian dan kewirausahaan. Seperti yang sudah terungkap di muka, orang tua saat ini masih memandang aspek akademis menjadi pertimbangan pertama dalam memilih sekolah. Maka, tidak heran jika banyak orang tua yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan sekolah dengan prestasi akademik tinggi. Pihak sekolah pun akan melakukan seleksi ketat terhadap calon siswanya. Hanya siswa yang memiliki IQ tinggi yang dapat diterima di sekolah yang bersangkutan. Dari kasus ini, Penulis jadi tergelitik, sebenarnya yang unggul sekolah atau siswanya. Sangat masuk logika, jika sekolah yang hanya menerima input baik-baik saja, kemudian out putnya juga baik.

Oleh sebab itu, orang tua seharusnya tidak lagi terjebak pada istilah-istilah sekolah favourit, unggulan, plus dan lain-lain. Padahal yang dikembangkan hanya pada aspek kognitif saja atau academic minded. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menggali, mengembangkan dan mengoptimalkan seluruh potensi (baca: kecerdasan majemuk) peserta didiknya.

Porsi Pendidikan Agama.
Di era sekarang ini, dimana banyak kasus yang menimpa generasi penerus kita termasuk dalam hal ini para pelajar, mulai dari kasus tawuran, narkotika, pergaulan bebas dan perbuatan menuyimpang lainnya, maka peran pendidikan agama menjadi sangat signifikan terutama dalam membentuk kharakter dan perilaku siswa.

Penulis berpendapat bahwa, pendidikan moral tertinggi terletak di dalam doktrin-doktrin agama yang diyakini seseorang. Melalui pendidikan agama yang cukup, diharapkan para peserta didik akan muncul kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai tugas, peran dan tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan, anak, siswa dan anggota masyarakat. Sebagai implementasinya, anak mampu menghargai orang lain dengan segala perbedaan serta mampu memilah dan memilih kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan tidak.

Oleh karena itu, porsi pendidikan agama yang diterapkan oleh suatu sekolah hendaknuya menjadi bahan pertimbangan penting orang tua dan anak dalam memilih sekolah. Barangkali, jika kita ingin mendapatkan pendidikan agama yang lebih di sekolah negeri, nampaknya sulit diwujudkan. Pasalnya, sesuai aturan yang berlaku, sekolah-sekolah negeri hanya menerapkan 2 (dua) jam pelajaran agama dalam sepekan, kecuali inisiatif pihak sekolah untuk mengadakan jam tambahan. Mungkin dari sini, sekolah-sekolah swasta yang berbasiskan agama dapat menjadi solusinya. Sekolah ini jelas-jelas memberikan porsi lebih banyak untuk pendidikan agama, bahkan sudah dipadukan dengan mata pelajaran lain, sehingga terdapat internalisasi nilai-nilai agama di setiap bahan ajar. Apalagi di jenjang pendidikan dasar, ibaratnya sebagai momentum peletakan pondasi bangunan kepribadian dan pengoptimalan seluruh potensi siswa. Maka, agama menjadi komponen paling penting dalam membentuk dan membangun kharakter siswa.

Kurikulum pembelajaran.
Kurikulum bisa dikatakan sebagai jantungnya pendidikan. Dikarenakan di dalamnya berisi tentang perencanaan pembelajaran yang menyangkut semua kegiatan yang dilakukan dan dialami peserta didik dalam perkembangan, baik formal maupun informal guna mencapai tujuan pendidikan. Walaupun penerapan kurikulum ini sudah diatur dan diseragamkan dari pusat, tetapi pihak penyelenggara pendidikan dapat melakukan modifikasi-modifikasi disesuaikan dengan kondisi sekolah, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.

Dalam kebijakan kurikulum terbaru, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sangat memberikan keleluasaan kepada pihak sekolah (negeri maupun swasta) untuk berkreasi dan berinovasi selama masih mengacu kepada standar kompetensi yang ditentukan. Maka, sangat dimungkinkan akan terjadi kompetisi di antara sekolah-sekolah, tentang bagaimana menampilkan profil sekolah dan keunggulan-keunggulannya dalam hal muatan materi pembelajaran dan kegiatan sekolah. Oleh karena itu, orang tua dan calon siswa harus benar-benar jeli dan teliti dalam memilih sekolah terutama pertimbangan dari sisi kurikulum yang diterapkan sekolah tersebut. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah juga perlu dicermati, apakah dimungkinkan dapat mengoptimalkan bakat dan potensi peserta didik.

Profil Pendidik.
Keberhasilan dari proses dan hasil output pendidikan tidak dapat dilepaskan dari andil guru. Boleh dikatakan guru sebagai ujung tombak pendidikan untuk mencetak dan mengkader generasi penerus yang didambakan. Apalah artinya kurikulum yang ideal jika tidak didukung oleh pelaksananya, yaitu sumber daya manusia yang cakap. Maka tidak heran, jika pemerintah terus-menerus berusaha meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai program, mulai dari penataran-penataran, beasiswa pendidikan dan sertifikasi guru.

Raka Joni (1980) mengemukakan adanya tiga dimensi umum yang menjadi kompetensi tenaga kependidikan, antara lain:

(1) Kompetensi personal atau pribadi,
maksudnya seorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap yang patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

(2) kompetensi profesional,
maksudnya seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, mendalam dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.

(3) Kompetensi kemasyarakatan,
artinya seorang guru harus mampu berkomunikasi baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas. Mungkin secara sederhana, ketika kita mengamati profil guru sebuah sekolah, bisa dilihat dari riwayat pendidikan, pengalaman mengajar, prestasi, penampilan, sikap dan gaya mengajar apabila dimungkinkan.

Gedung dan fasilitas.
Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan prasarana yang mendukung. Mulai dari bangunan fisik, ruang kelas, taman, perpustakaan, laboratorium, sarana olah raga dan kesenian, arena bermain, kantin, perlengkapan kelas, sampai dengan alat peraga edukasi yang dimiliki. Seiring dengan kemajuan bidang informasi dan teknologi, nampaknya bukan hal yang baru sebuah sekolah memiliki fasilitas akses jaringan internet dan website sendiri, dimana setiap stake holders dapat berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya.

Hal ini, akan sangat membantu bagi orang tua untuk memantau perkembangan putra-putrinya secara cepat tanpa harus secara fisik datang kesekolah. Dengan didukung sarana dan prasarana yang baik, diharapkan semua peserta didik dapat belajar secara enjoy, nyaman, dan betah. Sekolah diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak-anak, sehingga sekolah yang baik mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan siswa. Hal yang perlu diperhatikan juga mengenai rasio jumlah siswa dengan luas ruangan kelas serta fasilitas pembelajaran yang lain.

Lokasi sekolah dan lingkungan.
Lokasi yang dimaksud dapat dipandang dari jarak sekolah ke rumah, lingkungan sekitar dan sarana transportasinya. Bisa dibayangkan seorang anak harus bangun pagi-pagi sekali karena letak sekolahnya jauh. Tentu ia pulang dalam keadaan lelah karena jarak yang ditempuhnya memakan waktu yang lama. Belum lagi jika terjadi kemacetan lalu lintas, bisa dimungkinkan sering terlambat pulang maupun masuk sekolahnya.

Lalu kapan ia bisa belajar di rumah dengan nyaman? Bagaimana ia bisa mengembangkan interaksi dengan anggota keluarga lain di rumahnya? Maka, faktor lokasi dan lingkungan ini hendaknya diperhatikan oleh orang tua dan anak itu sendiri dalam menentukan sekolah pilihannya. Perlu dipikirkan juga mengenai sekolah yang berlokasi di pusat perkotaan atau keramaian dan yang berada di pinggiran atau lebih dekat dengan suasana alam, semua memiliki plus-minus-nya.

Biaya pendidikan.
Barangkali bagi sebagian kalangan, faktor biaya ini menjadi pertimbangan paling utama dalam memutuskan sekolah yang dipilih, terutama bagi masyarakat yang secara ekonomi kelas menengah ke bawah. Biaya pendidikan yang ditarik pihak sekolah secara umum terdiri iuran SPP, bantuan pembangunan/gedung, seragam, buku, praktikum dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah-sekolah yang dianggap favourit, unggul maupun plus biasanya juga akan memasang biaya pendidikan yang tidak murah.

Hal ini berkaitan dengan fasilitas pembelajaran dan program-program unggulan yang ditawarkan. Namun yang perlu diingat bahwa, tingginya biaya pendidikan yang diterapkan pihak sekolah hendaknya diikuti juga dengan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, sebelum menentukan pilihan sekolah, orang tua diharapkan sudah mampu mengukur kemampuan secara ekonomi tentang biaya pendidikan yang harus dikeluarkan termasuk anggaran lain di luar program sekolah, seperti uang saku, transportasi, perlengkapan sekolah dan lain-lain.

Ketertiban dan kebersihan sekolah.
Kondisi sekolah yang nyaman, teduh, tenang, tertib dan lingkungan yang bersih tentu saja akan mendukung suasana proses pembelajaran.Berbeda dengan suasana sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh, penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak ada kedisiplinan yang diterapkan, maka proses belajar mengajar akan banyak terganggu dan kurang optimal hasilnya. Kata kuncinya, siswa di sekolah harus merasa senang dan betah seperti ketika berada di rumahnya sendiri (feels like second home).

Lihat prestasi dan keberhasilan alumninya.
Kriteria yang tidak boleh ditinggalkan dalam memilih sekolah yang ideal adalah prestasi dan profil output-nya. Sekolah yang baik, selain unggul di dalam proses, juga unggul pada hasilnya. Seperti telah diurakaikan di muka, yang disebut prestasi tidak hanya secara akademik, tetapi juga non akademik baik siswa, guru maupun institusinya. Bagaimana perkembangan bakat dan potensinya, sikap, perilaku, kemandirian, keterampilan dan keahlian lain yang mendukung. SedangkanKeberhasilan alumni dapat diukur dari lulusan sekolah dapat diterima di sekolah lanjutan yang kualitasnya baik serta memiliki life skill yang cukup untuk mampu eksis di tengah masyarakat.

Dari paparan di atas, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi orang tua dan anak di tengah euforia kebingungan mencari sekolah yang ideal. Terlebih-lebih dengan diterapkannya sistem penerimaan siswa baru (PSB) on line yang masih mengedepankan nilai akademik (ujian nasional) di dalam proses seleksinya. Hal ini, tentu saja membuat keresahan dan kepanikan tersendiri terutama bagi yang nilainya di bawah atau pas-pasan.

Penulis berharap, kedepan sistem seleksi penerimaan siswa baru yang sekarang ini berlaku perlu dikaji secara mendalam, bukan komponen IT- nya (sistem on line), tetapi kriteria yang dijadikan alat penerimaan, yaitu hanya nilai ujian nasional. Oleh karenanya, pihak sekolah sendiri secara otonom yang dapat menentukan kriteria penerimaan siswa baru di tempatnya, semoga! 

Oleh : Imam Subkan

Kamis, 31 Januari 2013

PROGRAM BIDIKMISI



Bidikmisi adalah program bantuan biaya pendidikan yang diberikan Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian  Pendidikan  dan  Kebudayaan  mulai tahun  2010  kepada mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi.
Bidikmisi merupakan program 100 Hari Kerja Menteri Pendidikan Nasional yang  dicanangkan  pada  tahun  2010.  Perguruan  tinggi  yang  mendapat bantuan  Bidikmisi  yaitu  perguruan  tinggi  di  bawah  Kementerian  Pendidikan dan  Kebudayaan  dan  Kementerian  Agama.  Pada  tahun  2011  mahasiswa baru  penerima Bidikmisi  bertambah menjadi 30.000 di  117  perguruan  tinggi negeri dengan adanya tambahan anggaran dari APBN-Perubahan. Pada  tahun  2012  ini  Bidikmisi dilanjutkan  dikembangkan  menjadi  30.000  calon mahasiswa  penerima  yang  diselenggarakan  di  87  perguruan  tinggi  negeri dibawah  Kemdikbud dan program Bidikmisi yang dikelola oleh Kementerian Agama.
Program ini mempunyai misi untuk menghidupkan harapan bagi masyarakat kurang mampu dan mempotensi  akademik  memadai  untuk  dapat  menempuh  pendidikan  sampai ke jenjang pendidikan tinggi.
Bantuan yang diberikan dalam program ini terdiri atas Bantuan  biaya  hidup  yang  diserahkan  kepada  mahasiswa  sekurang-kurangnya  sebesar  Rp600.000,00  (enam  ratus  ribu  rupiah)  per  bulan  yang ditentukan berdasarkan Indeks Harga Kemahalan daerah lokasi PTN dan Bantuan  biaya  penyelenggaraan  pendidikan  yang  dikelola  PTN  sebanyak-banyaknya Rp2.400.000,00 (dua juta empat ratus ribu rupiah) per semester per  mahasiswa.
 Selengkapnya silahkan baca DISINI

Kamis, 20 Desember 2012

MELURUSKAN MAKNA KONSELOR SEKOLAH


Konselor Sekolah (Guru BK) termasuk dalam kategori pendidik, sama dengan guru. Keunikan konselor adalah bertugas memberikan bimbingan kepada siswa. Sayangnya dengan tugas tersebut konselor oleh warga sekolah justru dipahami sebagai tukang reparasi siswa. Padahal tugas konselor mencakup upaya untuk menjadikan seluruh siswa mencapai perkembangan yang optimal.
Undang-undang No. 20/2003 pasal 1 (6) menyatakan bahwa konselor sekolah (Guru BK) termasuk dalam kategori pendidik, sama dengan guru, dosen, widyaiswara dan tutor. Walaupun termasuk dalam kategori yang sama namun terdapat perbedaan yang esensial yakni pada konteks tugas dan eksistensi yang unik. Pada konteks tugas dijelaskan bahwa bimbingan merupakan suatu proses, yang mengandung makna bahwa bimbingan itu merupakan kegiatan yang berkesinambungan, berlangsung terus-menerus, bukan kegiatan seketika atau kebetulan.
Bimbingan merupakan bantuan. Makna bantuan dalam bimbingan menunjukkan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau mengambil keputusan adalah siswa sendiri. Di sinilah keunikan keberadaan konselor. Konselor tidak memaksakan diri tetapi berperan sebagai fasilitator bagi perkembangan siswa. Bantuan diberikan kepada individu yang sedang berkembang dengan segala keunikannya. Bantuan dalam bimbingan diberikan dengan mempertimbangkan keragaman keunikan individu.
Sayang keberadaan konselor sekolah saat ini peranannya masih belum optimal. Pandangan warga sekolah (Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran, Siswa) masih dilihat sebelah mata. Tugas guru BK hanya sebagai bengkel mereparasi siswa bermasalah dengan konotasi perilaku tidak terpuji. Realitanya di sekolah bisa disimak bila ada permasalahan konseli (peserta didik) yang belum mampu memiliki penyesuaian sosial secara memadai, seperti melakukan tawuran antar pelajar di dalam sekolah, penyalahgunaan HP, siswa membolos, mencuri, meminum minuman keras, maka untuk menyelesaikan permasalahan itu, wali kelas, kesiswaan, demikian juga kepala sekolah selalu menunjuk konselor.
Ada miss persepsi tentang makna konselor sekolah. Konselor bagi warga sekolah lebih dikenal sebagai sosok yang tidak menyenangkan (bersifat judes dan tidak ramah). Keadaan ini bisa dikatakan malpraktek (penyimpangan tugas dan fungsi seorang konselor). Diskripsi ini adalah penafsiran yang sangat sempit. Apa dan bagaimana keberadaan konselor sekolah yang sebenarnya?
Secara formal kedudukan bimbingan dalam sistem pendidikan nasional menurut Undang-undang No.20/2003 dan Peraturan Pemerintah No.29 tahun 1990 pasal 27 dikemukakan bahwa : “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing.” Pengakuan secara formal itu mengandung arti bahwa layanan bimbingan konseling perlu dilaksanakan secara terprogram dan ditangani oleh orang yang memiliki kemampuan untuk itu. Secara khusus bimbingan membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal agar dapat mengembangkan kepribadiannya secara optimal baik menyangkut aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, maupun moral.

Kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang konselor harus memiliki kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial dan moral sebagai pribadi yang berguna. Kompetensi itu sangatlah penting bagi konselor sebab klien yang dikonseling akan belajar dan mengembangkan kompetensi yang diperlukan untuk mencapai kehidupan yang efektif dan bahagia. Konselor yang efektif adalah memiliki (a) Pengetahuan akademik (b) Kualitas pribadi dan (c) Keterampilan konseling. Konseling adalah kompetensi yang dimiliki konselor. Konselor yang memiliki kompetensi melahirkan rasa percaya diri klien meminta bantuan konseling.
Selanjutnya implementasi layanan agar siswa lebih tertarik, ditawarkan layanan BK I2M3 yang bermakna : Interaktif yaitu konselor tidak memaksakan kehendaknya terhadap peserta didik tetapi berperan sebagai fasilitator. Inspiratif yaitu bahwa layanan lebih menumbuhkan peserta didik, bersikap toleran terhadap kekeliruan dan keragaman perilaku peserta didik. Sedangkan M adalah Menyenangkan yaitu bahwa konselor sekolah bersikap perduli terhadap peserta didik dan memahami apa yang terjadi pada dirinya. M berikutnya adalah Menantang yaitu konselor bersikap konsisten bagaimana membantu peserta didik untuk merasakan konsekuensi tindakannya. Dan mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan perilakunya. M yang terakhir adalah Memotivasi yaitu konselor dalam layanannya bisa mengembangkan atmosfir kelas yang kondusif bagi perkembangan sosial peserta didik yang dapat menumbuhkan rasa turut memiliki kelompok.
Metode layanan BK I2M3 merupakan bentuk peran BK di sisi lain. Bahwa BK bukan semata menangani siswa yang bermasalah tetapi keseluruhan pribadi siswa termasuk pada siswa yang berpotensi. Dengan diberikan layanan tersebut diharapkan siswa berpotensi tersebut dapat mengembangkan karir di masa depan.
Sudah selayaknya misspersepsi maupun misskonsepsi terhadap konselor sekolah di Sekolah bisa dipahami warga sekolah dan orang tua bahwa sesungguhnya memperbaiki perilaku siswa menyimpang bukan pekerjaan semata konselor sekolah, tetapi semua pihak terkait. Selain itu konselor membantu siswa berperan penting bagi siswa tidak bermasalah dalam rangka mencapai tujuan perkembangan aspek pribadi, sosial, belajar dan karir secara optimal.

Sabtu, 17 November 2012

Faktor Penyebab dan Cara Menghadapi Kenakalan Remaja,



Baru-baru ini saya terpaksa harus bolak balek dari sekolah ke kantor polisi, ngurusin murid-muridku yang tingkahnya bikin ngurut dada, Berkelahi.... ya...berkelahi........ tapi itulah salah satu dan sebagian kecil dari tugasku sebagai guru Bimbingan Konseling di Sekolah.
Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang. Dan saya pun pernah melihat dari tayangan televisi ketika sebuah anak kelas satu SMA di sebuah kota, ditangkap/diciduk POLISI akibat menjadi seorang bandar gele, atau yang lebih kita kenal dengan ganja.
Hal ini semua bisa terjadi karena adanya faktor-faktor kenakalan remaja berikut:
-          kurangnya kasih sayang orang tua.
-          kurangnya pengawasan dari orang tua.
-          pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.
-          peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.
-          tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah.
-          dasar-dasar agama yang kurang
-          tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya
-          kebasan yang berlebihan
-          masalah yang dipendam

Saya kira ada beberapa hal yang perlu di lakukan orang tua dalam menghadapi kondisi ini.... atau mungkin biar lebih keren bisa di bilang tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja sebagai anak-anak kita, yaitu :
  1. Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
  2. Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia akan (masih akan) atau telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut. 
  3. Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani. 
  4. Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll. 
  5. Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah. 
  6. Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya (Meskipun anak kita sudah setingkat SMP/SMA, tidak ada kata terlambat untuk urusan Agama)
  7. Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya. 
  8. Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah
Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga dapat berguna bagi sahabat, saudara dan anda.semua.

Rabu, 25 Januari 2012

Strategi Menghadapi Ujian

Wuuuiiiihhh……sebentar lagi siswa kelas VI (SD/MI), siswa kelas IX (SMP/MTs) dan siswa kelas XII (SMA/SMK/MA akan menghadapi Ujian Nasional……..gimana nih….sampean sudah siap pa belum?......
Sementara di setiap sekolah mulai giat-giatnya mengadakan tambahan pelajaran/les dan TRY OUT. Buku-buku yang berhubungan dengan UNAS juga di jual bebas di toko-toko buku. Lembaga Bantuan Belajar juga sudah menyiapkan strategi jitu untuk menghadapi UNAS. Nah….ini semua bertujuan membantu sampean semua sebagai siswa untuk dapat lebih berkonsentrasi dalam belajar dan pada akhirnya siap untuk menghadapi UNAS.
Hasil akhirnya adalah nilai UNAS yang memuaskan bagi semua pihak.
Namun persiapan menghadapi UNAS tak hanya mencakup kesiapan otak, tetapi juga fisik, mental, maupun kelengkapan administrasi. Beberapa siswa menghadap dan bertanya kepada saya, mereka bilang,”Pak….saya takut…gimana ntar kalo saya tidak lulus….beri saran dong pak!”.
Berikut tips yang bisa dilakukan dalam menghadapi UNAS yang mungkin bias sampean laksanakan :

1.  Belajar dengan cara terbaik
Tiap orang punya gaya belajar yang berbeda-beda. Ada yang menyukai belajar sendirian sambil mendengarkan musik, ada juga yang menyukai suasana hening ketika belajar. Ada pelajar yang memanfaatkan pagi hari sebelum sekolah atau siang pulang sekolah untuk belajar, ada juga yang lebih tenang belajar ketika malam. Semua itu adalah pilihan agar hasil belajar sampean maksimal.

2.  Konsultasi dengan guru dan teman
Kita akan makin mengerti satu topik pelajaran bila berkonsultasi dengan guru atau teman yang lebih mengerti. Sampean juga bisa memanfaatkan kelompok belajar, ya….kelompok belajar sebagai ajang diskusi dan memperdalam suatu materi pelajaran.

3.  Ikut bimbingan belajar
Biasanya, menjelang ujian, pelajar aktif mengikuti bimbingan belajar, baik itu yang diselenggarakan oleh sekolah, maupun oleh lembaga bimbingan belajar di luar sekolah.

4.  Rajin berlatih soal
Satu trik jitu agar sukses UNAS adalah dengan memelajari soal-soal UNAS tahun sebelumnya dan menekuni prediksi soal UNAS tahun ini. Biasanya, kumpulan soal UNAS ini dijual beserta pembahasannya.
Berlatihlah mengerjakan soal-soal ini minimal satu jam setiap harinya. Kemudian, cocokkan jawabanmu dengan kunci jawaban yang disediakan. Semakin sering berlatih, maka sampean akan semakin terbiasa menghadapi soal-soal ujian. Dengan begitu, enggak ada alasan lagi untuk tidak bisa mengerjakan soal UNAS kan?

5.  Ikuti Try Out
Dengan mengikuti try out (uji coba) kamu bisa mengukur kemampuanmu menghadapi UNAS. Ada lembaga bimbingan belajar yang menyelenggarakan try out berkala tiap minggu untuk melihat perkembangan tiap siswa dalam menghadapi UNAS.

6.  Cek peralatan ujianmu!
Siapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk ujian. Simpan baik-baik kartu tanda ujianmu, jangan sampai hilang, ya!..... Alat tulis yang biasa dipergunakan adalah pinsil 2B, siapkan juga cadangannya. Selain itu, kamu juga perlu membawa balpoin, penghapus pinsil, rautan pinsil, penggaris, dan alas ujian (biasanya sudah disiapkan oleh masing-masing sekolah).

7.  Jaga kesehatan
Perhatikan asupan gizi dalam makanan yang sampean konsumsi. Jangan makan sembarangan supaya sampean terhindar dari sakit yang akan menghambat persiapanmu menghadapi UNAS. Selain menjaga makanan, berolahraga secara teratur juga membantu tubuh untuk tetap bugar.

8.  Rileks
Jangan biarkan stres menguasaimu…..apalagi untuk mereka yang sudah mengenal lawan jenis, tahan diri dulu…… Untuk menghindari stres, luangkanlah sedikit waktu untuk refreshing. Kamu bisa menonton televisi, membaca buku, mendengarkan musik, atau melakukan hal-hal yang kamu sukai dan bersifat positif.

9.  Berdoa
Setelah semua persiapan sampean lakukan, jangan lupa berdoa, sumkem pada orang tua agar ujianmu lancar. Ingat juga untuk minta kedua orangtuamu mendoakan usahamu ya!......
Baiklah……mungkin coretan ini dapat membantu sampean semua, dan do’a saya semoga sampean lulus dan tidak hanya sekedar lulus……

Semoga berhasil…!!!

Kamis, 05 Januari 2012

Tengkar sama Orang tua ?

Suatu ketika datang seorang murid kepada saya.... Sang murid bilang,"Pak....saya lagi sebel, jengkel, pinginnya marah......."
Lhah...koq bisa sih, kan spean orangnya baik, suka senyum, selalu ceria....coba cerita sama saya,...pinginnya marah ma siapa?" Jawabku...
"Sama Mama....sama Papa....tadi malam saya tengkar sama mereka..........@#$%^^&&*&*(((" Jawabnya seraya meniunjukkan tingkah laku yang lain dari biasanya.

Saudaraku, ini adalah sekelumit cerita dari anak-anak yang curhat kepada saya, guru BKnya

Hiiiii.....ampun deh!! Terbayang hal yang menakutkan dari dua pihak yang saling beradu mempertahankan bahwa yang ”benar” itu adalah ”miliknya”. Menakutkannya karena kadang berawal dari konflik itu mengakibatkan salah satu tersakiti, tidak hanya sakit perasaannya karena kecewa tapi fisikpun bisa terluka jika konlik sudah tak terkendali.
Saudaraku, tanpa kita sadari hampir tiap hari kita mengalami konflik dengan orang sekitar kita, dengan orang tua, saudara, teman, bahkan dengan guru. Berawal dari masalah perbedaan pendapat, rasa tidak dihargai, berebut untuk nomor satu dengan saudara, pengkhianatan oleh teman, merasa diperlakukan tidak adil oleh guru dll. Sedih bukan rasanya jika kalian mengalami hal semacam ini?
Saudaraku, Kali ini saya mengajak menyelami konflik yang sering kali terjadi antara anda para remaja dengan orang tua, penyebab terjadinya konflik dan strategi mengurangi konflik remaja dengan orang tua.
Contoh hal yang kadang dianggap sepele, masalah merapihkan tempat tidur. Kalau orang tua belum teriak kadang sampean malas melakukannya, padahal hampir tiap pagi, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun orang tua tidak pernah lupa mengingatkan. Sekali saja sampean mencoba membiarkan, apa yang terjadi? Orang tua marah kan?............
Sekarang bagaimana kalau sampean sebagai pihak yang tiap hari harus selalu mengingatkan orang tua masalah pemberian uang saku, pasti akan Bete kalau kalian tahu orang tua dengan sengaja tidak memberi tanpa alasan yang jelas..........(koq...jadi pro orang tua sih.?????........gitu ya menurut spean?).
Kenapa konflik remaja dengan orang tua bisa terjadi? Hal-hal apa saja sih yang bisa jadi penyebab pertengkaran? Lalu bagaimana jika  terjadi konflik yang berat dan berkepanjangan?
Masa awal remaja adalah waktu dimana sampean merasakan konflik remaja – orang tua  meningkat lebih dari konflik saat kalian masih ”anak-anak”. 
Perubahan biologis pubertas, perubahan cara berfikir  termasuk meningkatnya idealisme dan penalaran logis, perubahan sosial yang berpusat pada kebebasan dan jati diri, keinginan dan harapan yang tak tercapai, dan perubahan fisik, kognitif dan sosial orang tua sehubungan dengan usia paruh baya.
Walaupun konflik dengan orang tua  meningkat di masa awal remaja, namun konflik ini kebanyakan konflik melibatkan kejadian sehari-hari dalam kehidupan keluarga, seperti merapikan kamar tidur, berpakaian yang rapi, pulang sebelum jam tertentu, tidak terlalu lama bicara di telpon, dan sebagainya. 
Kebanyakan konflik terjadi dengan ibu dan mayoritas terjadi antara ibu dengan putrinya.
Dan meskipun konflik kebanyakan bermula dari kejadian sehari-hari, tetap saja, remaja dan orang tua yang terlibat dalam pertengkaran yang berulang-ulang tanpa pernah ada kesepakatan akan menjadikan rumah serasa penjara. Orang tua mungkin dapat menekan perilaku menentang anak-anak karena secara fisik anak-anak lebih kecil dari  pada orang tua. Tetapi pada  masa remaja peningkatan ukuran dan tenaga bisa berakibat pada ketidakpedulian atau konfrontasi terhadap pendiktean orang tua.
Saat kalian malas merapihkan tempat tidur tak jarang orang tua mengataka,”kamu sudah besar,mestinya kamu sudah tahu tugas-tugasmu tanpa tiap hari ibu mengingatkan kamu”. Tapi saat kalian merasakan cinta terhadap teman lawan jenis, orang tua mengetahui kamu sering sms dan telpon berlama-lama dengan teman istimewamu itu orang tua akan mengatakan,”kamu masih kecil, tugasmu sekarang ini adalah belajar bukan pacaran”. Dua pernyataan orang tua yang seperti itu tentu membuat kalian bingung yang akhirnya kalian menuduh orang tua tidak pengertian.
Strategi Mengurangi Konflik Orang Tua – Remaja
Suatu cara terbaik  untuk mengatasi konflik orang tua –remaja adalah dengan cara pemecahan masalah secara bersama, yang tujuannya adalah untuk menemukan pemecahan masalah yang bisa memuaskan kedua belah pihak, orang tua – remaja. Pendekatan ini bisa berjalan dengan baik jika orang tua dan remaja memusatkan perhatiannya pada masalah tersebut, ketika diskusi dibatasi hanya pada satu masalah, dan ketika remaja sebelumnya telah setuju untuk mencoba mencari pemecahan masalah bersama.
Berikut ini dikatakan oleh ahlinya, Santrock (2003) pendekatan pemecahan masalah bersama terdiri dari enam tahap dasar, seperti berikut;
1.   Menetapkan aturan-aturan dasar penyelesaian konflik
Aturan-aturan ini pada dasarnya adalah aturan untuk bermain secara jujur. Kedua belah pihak orang tua dan remaja sepakat untuk memperlakukan satu sama lain dengan hormat, tidak ada hujatan, makian dan tidak merendahkan  yang lain, seperti; memperhatikan pemikiran atau pendapat orang lain. Ketika saat diskusi orang tua memberikan catatan yang positif dengan mengatakan keinginan untuk bersikap adil.
2.   Cobalah mencapai saling pengertian
Maksud dari saling pengertian disini adalah orang tua dan remaja sama-sama mendapat kesempatan mengutarakan duduk permasalahannya, dan bagaimana perasaan mereka tentang masalah itu. Dalam diskusi ini, penting sekali untuk tetap fokus pada permasalahan yang dibahas, bukan pada kepribadian.
3.   Cobalah melakukan brainstorming
Orang tua dan remaja mencari jalan keluar sebanyak mungkin untuk permasalahan yang sedang dihadapi. Pada titik ini, jangan ada gagasan yang di tolak karena terlalu gila, terlalu mahal, atau terlalu bodoh. Tentukan batas waktu, misalnya 5 atau 10 menit dan hasilkanlah kemungkinan penyelesaian sebanyak mungkin.
4.   Cobalah mencapai kesepakatan mengenai satu pemecahan atau lebih
Orang tua dan remaja memilih pilihan yang paling mereka sukai. Setiap pilihan tidak boleh dibahas karena akan menghasilkan perdebatan yang berkepanjangan, dan kadang kala tidak membuahkan apapun. Pada tahap ini orang tua dan remaja bisa melihat ke mana arah minat mereka. Beberapa tarik ulur, beberapa negosiasi mungkin akan diperlukan pada tahap ini. Orang tua maupun remaja tidak seharusnya menyetujui dengan hal yang menurut mereka tidak bisa diterima.
5.   Catatlah persetujuannya
Meskipun kelihatan formal, tapi tahap ini harus dilakukan karena kadang-kadang ingatan seseorang bisa lupa. Jika suatu saat orang tua atau remaja melanggar persetujuan, catatan ini dapat dijadikan pegangan.
6.   Tentukan waktu untuk membicarakan kelanjutannya untuk memeriksa perkembangannya
Jika orang tua atau remaja tidak mematuhi persetujuan, atau jika pemecahan yang disepakati bersama tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, permasalahan tersebut harus ditinjau lagi.
Saudaraku,......dari uraian di atas, semoga dapat bermanfaat baik bagi sampean selaku murid maupun orang tua maupun pihak-pihak lainnya yang membaca sebagai bahan masukan.
Namun satu hal yang perlu di ingat, adalah tidak ada orang tua yang memarahi anaknya, yang benar adalah Orang tua menasehati anaknya.